Perjalanan PNPM Mandiri perkotaan di provinsi Gorontalo sudah memasuki tahun ke VII terhitung sejak tahun 2005. Dikota Gorontalo khususnya perjalanan P2KP begitu diminati warga, meskipun sejak tahun 2005 sampai 2008 masih bergabung dengan KMW V SULUT.
Kebersamaan yang dirasakan oleh para pejuang pemberdayaan sebagai fasilitator begitu terasa. 90% BKM yang terpilih di kala itu sangat memahami arah program. “BKM adalah Badan Keswadayaan Masyarakat dapat diartikan suatu Badan yang mengelola Swadaya Masyarakat sebagai modal utama dalam menjalankan roda pemberdayaan di masyarakat”
Sementara sang pemberdaya tetap eksis memfasilitasi siklus masyarakat dan salah satunya melalui Pelatihan Masyarakat (Pelmas) dimana momen ini sesekali menjadi batu sandungan buat sang pemberdaya karena pertanyaan-pertanyaan seputar BLM dan bagaimana keberlanjutan di tahun 2013 masih menjadi pembicaraan hangat dimasyarakat dan beberapa pengurus BKM
Salah satunya adalah menghadapi sikap para tokoh masyarakat yang biasanya selalu memperlihatkan powernya di depan masyarakat , dengan mengatakan bahwa program PNPM-MP tidak lagi berpihak pada masyarakat miskin, karena BLM tidak ada lagi, sehingga kadang kala membuat kuping sang pemberdaya memerah serta nyaris terpancing emosi. Kritikkan-kritikkan yang bersifat menjatuhkan juga sering dihadapi, akibat dana Sharing APBD yang sudah 3 tahun berturut-turut tidak ada realisasinya. Hal ini terjadi karena beberapa hal diantaranya modul dan materi pelatihan isinya sama dari tahun ke tahun.
Menghadapi sikap Para Tokoh Masyarakat seperti itu, terlebih dengan faktor dana BLM yang sampai saat ini belum ada kejelasan, Tim Fasilitator mencoba meramu kembali strategi yang akan di terapkan, misalnya dengan menghadirkan korkot dan askot sebagai pemandu, sharing dengan tim fasilitator lain, bertukar pikiran dan melakukan sharing dengan para senior yang sudah cukup lama pada program ini.
Faktor utama dan yang terpenting dalam memfasilitasi pelatihan masyarakat adalah pamahaman substansi program untuk setiap fasilitator yang harus benar-benar matang dan mau meng-upgrade diri sebagai seorang pelaku pemberdaya. Hal ini yang perlu di dahulukan sebagai peluru ketika melakukan pendampingan, dan untuk menghadapi Tokoh masyarakat yang over acting dilakukan dengan cara menjadikan beliau-beliau sebagai wadah sharing dan melibatkan mereka pada setiap kegiatan yang akan dilaksanakan, karena pada dasarnya kita membutuhkan eksistensi mereka serta pendapat-pendapat mereka pada program penanggulangan kemiskinan. Dengan mengembalikan eksistensi mereka (Tokoh Masyarakat) dan tidak terlepas dari substansi program , ternyata semua jadi mudah dan tidak ada masalah.
Menjadi seorang Fasilitator itu ternyata gampang-gampang susah dan harus berjiwa smart. Intinya
kerendahan hati serta mau barbaur dengan syapa saja, berani menerima kritikkan adalah jalan terbaik dalam memudahkan perjuangan kita pada program ini,hal yang selalu di ingat kode etik adalah konsekwensi dan resiko pekerjaan fasilitator saat berhadapan dengan masyarakat. Paham akan substansi program adalah peluru kita dalam mengahadapi situasi apa saja dilapangan, maka dari itu teruslah belajar, karena inilah pemberdayaBest Practise Sosial
Ditulis Oleh : Sri Nurnaningsih K. Tahir
Senior Fasilitator Tim 04 Kota Gorontalo








0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih atas kunjungan anda, tolong tinggalkan saran dan komentar untuk perbaikan ke depan. Salam Pemberdaya